Labuhanbatu Selatan, bintangharian.com – Aksi pencurian buah kelapa sawit kembali memicu keresahan warga di Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kali ini, seorang warga bernama Tampil Simajuntak melaporkan dugaan pencurian yang terjadi di ladang sawit miliknya ke Polres Labusel, Jumat (22/8/2025) malam.
Tak main-main, Tampil datang dengan membawa barang bukti mencengangkan, yakni 1 unit sepeda motor Honda Revo X, 1 keranjang gandeng, 1 egrek, serta 64 tandan buah segar (TBS) sawit seberat kurang lebih 1.000 kg.
“Sudah berulang kali ladang saya dicuri. Kali ini kami temukan barang bukti langsung di lapangan, namun pelaku sudah lebih dulu kabur. Parahnya, bukan hanya buah matang yang diambil, tapi juga buah muda, yang jelas-jelas merusak pokok sawit,” ungkap Tampil usai membuat laporan di SPK Polres Labusel.
Menurutnya, lahan sawit yang kini dikelolanya diperoleh melalui mekanisme ganti rugi yang sah di hadapan notaris. Sebelumnya, tanah itu sempat dikelola oleh PT Torganda melalui pola bapak angkat. Namun belakangan, lahan dikembalikan ke masyarakat lewat Kelompok Tani Pola PIR Sindur.
Tampil mendesak agar Polres Labusel segera menindaklanjuti laporan ini. “Kami ingin ada efek jera. Jangan sampai pencurian sawit dianggap sepele, karena merugikan banyak pihak,” tegasnya.
Di sisi lain, laporan ini juga menyeret isu konflik penguasaan lahan. Ir. Tumiran Widodo, yang mengklaim sebagai bagian dari sejarah awal penyerahan lahan kelompok tani ke PT Torganda, mempertanyakan proses pengembalian lahan yang kini dikelola kelompok baru.
“Saya tahu persis sejarahnya. Kok bisa ada pelepasan ke kelompok tani baru? Kami tidak akan tinggal diam. Bahkan saat ini kami juga sedang mengadukan kasus pencurian sepeda motor Revo X milik anggota kelompok kami,” ucap Tumiran.
Kasus ini memperlihatkan bahwa persoalan pencurian sawit di Torgamba tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan konflik kepemilikan dan pengelolaan lahan yang belum tuntas hingga kini. Aparat kepolisian pun didesak tidak hanya menangani kasus pencurian, tetapi juga menelusuri akar masalah konflik agraria yang menjadi latar belakang kerawanan di wilayah tersebut.