Labuhanbatu Selatan, bintangharian.com – Peristiwa tragis terjadi pada Minggu (22/02) di Afdeling I PTPN IV Kebun Sei Baruhur, Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Seorang anak karyawan bernama Radit meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan saat membantu ayahnya bekerja di ancak (blok kebun).
Korban merupakan putra dari Mariadi, seorang karyawan kebun yang pagi itu tengah menyaksikan tandan buah sawit menggunakan egrek. Sejak awal bekerja, Mariadi mengaku telah mengingatkan anaknya agar menjaga jarak demi menghindari risiko kecelakaan.
“Saya sudah bilang supaya agak menjauh, takut kena egrek,” ujar Mariadi dengan nada sedih.
Peristiwa nahas itu terjadi saat Mariadi memotong pelepah penyangga buah kelapa sawit. Ketika pelepah tersebut terputus, pelepah yang jatuh justru menimpa egrek yang sedang digunakan, sehingga ujung egrek terpental dan mengenai bagian pinggang Radit yang berada tidak jauh dari posisi ayahnya.
Teriakan kesakitan Radit langsung memecah suasana kebun. Melihat darah bercucuran dari tubuh anaknya, Mariadi panik. Dalam kondisi darurat, ia melepas bajunya untuk menyumpal luka korban sambil meminta bantuan kepada pekerja lain di sekitar lokasi. Dengan bantuan rekan kerja, Radit segera dilarikan ke RSU. SRI PAMELA untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah kurang lebih dua jam menjalani perawatan intensif, Radit akhirnya menghela napas terakhirnya.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan terkait pengawasan melekat (Waskat) di lingkungan kerja, khususnya terkait larangan membawa anak ke lokasi ancak yang memiliki risiko tinggi.
Mandor 1, Ilham, saat dikonfirmasi menyatakan bahwa kegagalan telah membuat pernyataan tertulis agar karyawan tidak membawa keluarga ke lokasi kerja. Namun ia mengakui keterbatasan dalam pengawasan.
“Mana mungkin mampu mengawasi 34 karyawan sekaligus. Kami sudah membuat pernyataan tertulis agar tidak membawa keluarga ke ancak. Tapi saat bekerja, mana mampu kami mengurus semuanya,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Kepala (Askep) V. Hutabarat yang dihubungi untuk dimintai klarifikasi belum memberikan tanggapan. Pesan singkat dan panggilan telepon yang dilakukan hingga berita ini diturunkan belum mendapat tanggapan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari manajemen Afdeling I PTPN IV Kebun Sei Baruhur terkait peristiwa yang merenggut nyawa anak karyawan tersebut.
Tragedi ini mengingatkan akan pentingnya penerapan standar keselamatan kerja secara ketat di lingkungan perkebunan yang memiliki risiko tinggi. Duka mendalam kini merindukan keluarga Mariadi, yang harus kehilangan putra tercinta dalam peristiwa yang memilukan.












